Ketika krisis melanda, orang mencari kepemimpinan yang tenang.
Komunikasi krisis yang efektif melibatkan: akui situasi tanpa meremehkan, berikan informasi yang jelas tanpa spekulasi, dan tetapkan langkah selanjutnya.
Hindari kata-kata kosong seperti semua akan baik-baik saja, ganti dengan kita akan melewati ini dengan langkah-langkah konkret.
Dengarkan kekhawatiran tanpa defensif.
Yang paling penting, jaga nada suara dan bahasa tubuh.
Kata-kata bisa menenangkan, tapi tubuh yang tenang lebih meyakinkan.
Ketenangan bukan penyangkalan, tapi fondasi untuk menyelesaikan masalah.