Wabi-sabi berasal dari tradisi Zen dan estetika Jepang.

Ia mengajak kita menerima bahwa tidak ada yang sempurna dan abadi.

Cangkir yang retak, kayu yang lapuk, dan kulit yang keriput memiliki keindahan yang tidak bisa ditiru oleh kesempurnaan buatan.

Dalam hidup, wabi-sabi mengajarkan penerimaan diri.

Kita tidak perlu sempurna untuk berharga.

Setiap bekas luka adalah cerita, setiap kerutan adalah perjalanan.

Menerima ketidaksempurnaan adalah bentuk kasih paling dalam pada diri sendiri.