Perfeksionisme sehat mendorong standar tinggi, tapi perfeksionisme toksik memicu ketakutan konstan akan kegagalan.
Ciri-cirinya: sulit delegasi, menunda karena takut tidak sempurna, dan merasa tidak pernah cukup.
Penelitian menunjukkan perfeksionisme berkorelasi dengan burnout, insomnia, dan depresi.
Solusinya bukan menurunkan standar, tapi mengubah cara berhubungan dengan standar.
Fokus pada proses, hargai progres, dan ingat bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar.
Karya yang selesai lebih berharga daripada yang sempurna tapi tak pernah selesai.